BERSAMA MENGELOLA SUMBER DAYA AIR YANG BERKELANJUTAN

BERSAMA MENGELOLA SUMBER DAYA AIR YANG BERKELANJUTAN

Diterbitkan Selasa, 30 Maret 2021 oleh ucang 41 kali dilihat


Pembangunan infrastruktur sumber daya air (SDA) diawali 1970an, agar terbebas dari bencana kelaparan di Prov NTB.  Pendekatan  quick yielding dalam membangun bendung, bendungan (berikut embung), serta sistem irigasi membawa NTB melompati harapan.  Pada 1980an meraih predikat salah satu lumbung padi nasional, hingga sekarang produksi lebih dari 2.4 juta ton.  Sebagai  kontributor terbesar berupa 270.000an ha sawah irigasi dengan porsi kebutuhan air yang menembus 95%.  Sejalan perkembangan daerah, memaksa penyediaan air baku domestik termasuk kawasan potensial/khusus, tantangan yang menyulitkan.  Total kebutuhan air pada kedua sektor utama itu terus meningkat sehingga jomplang dengan ketersediaan air permukaan efektif yang hanya 4-5 milyar m3.  Hingga sekarang, potensi air yang terbatas itu dipasok dari 1600an unit bangunan utama yang tersebar di 156 daerah aliran sungai (DAS) utilitas.   Secara hidrologi, karakteristik sebagian besar DAS tergolong kering,  hujan setahun 700-1700 mm, ketersediaan air cepat berfluktuatif, dan tidak merata.  Meninjau neraca air global itu, walau sedikit telat, kini saatnya mengelola kekurangan air sebagai upaya pendayagunaan SDA, agar alokasi air proporsional-merata dan tidak mengalami kekeringan.  Mengelola defisit air membutuhkan pemindahan air antar DAS basah-kering, saling pengertian antar pengguna air untuk berbagi hulu-hilir, berbalapan dengan iklim yang cenderung berubah, dan operasional efektif-efisien, dengan menyandingkan budaya lokal dan teknologi.  Kompleks.

Dalam aspek daya rusak, kawasan banjir dengan indikator depth-area-duration (DAD) semakin tersebar dan meningkat.  Di beberapa daerah di kedua WS, banjir sering melanda kawasan yang memiliki penyangga hutan yang berubah fungsi, bahkan “rela” digundulkan demi memacu ekonomi.  Laju penanaman pohon kontradiktif dengan kecepatan penurunan fungsi lahan/hutan.  Peningkatan direct runoff  di catchment area merupakan faktor utama banjir karena lonjakan intensitas, luas dan kerataan hujan yang tidak dapat diredam.  Selain itu, penurunan kinerja sungai akibat laju erosi-sedimentasi dan kekuatan dinamika penduduk akan menekan ruang gerak aliran di sungai.   Ke depan, banjir dapat memicu keruntuhan bangunan besar, seperti ancaman overtopping di bendungan yang ditemui di kabupaten se NTB, di antaranya lebih dari setengah rencana life time.   Banjir sebagai akibat faktor-faktor pemicu dimaksud berpeluang terjadi tiap musim hujan, sebuah rutinitas yang menandakan peningkatan ancaman.   Resiko banjir harus diminimumkan, dengan menangani faktor-faktor pemicunya.   Khususnya bagi catchment area  berikut kawasan terdampak dan lokasi bendungan yang memiliki potensi banjir sangat tinggi perlu diberi warning secara dini, dengan flood forecasting.  Bukan terkaget ketika banjir mendera, baru kemudian beranjak dan menghitung kerugian.

Kunci pengelolaan SDA adalah konservasi, yakni menjaga agar debit air permukaan tidak berlebihan pada musim hujan demikian pula tidak menyusut tajam pada musim kemarau.  Rasio debit maksimum dan minimum diharapkan proporsional dan tidak makin membesar.  Demikian pula, rasio sedimentasi terhadap debit aliran.  Konservasi menopang keberlanjutan operasional sistem SDA agar bekerja antar ruang dan waktu.  Konservasi wajib dilakukan di 130 DAS utilitas dan 620 DAS non utilitas di kedua WS, bahkan di tiap belahan DAS di dunia sekalipun.  Konservasi merupakan investasi yang menjamin keberlanjutan sistem SDA, sehingga antar generasi tidak saling merugi. 

Upaya-upaya daya guna air dan pengendalian daya rusak air terasa mudah dinarasikan, sebatas normatif.  Walau gerak-langkah dibatasi wewenang, lingkup ruang, dan anggaran, namun kebersamaan stakeholders penting dirajut untuk menjawab persoalan yang meluas dan tantangan.  Pengelolaan sumber air dan penggunaan air  ibarat dua sisi koin, terpisah-terpadu.  Peran pro-aktif unsur pemerintah, pemda, hingga masyarakat perlu diformulasikan sejak kebijakan sampai teknis operasional.  Semua ini untuk tujuan bersama, mengingat air mengalir menembus batas administratif dan berujung di muara.  Waktunya menerapkan smart water management untuk tindakan cepat, tepat, dan menyeluruh di hulu-hilir.


Tinggalkan Komentar :



Komentar :

Belum Ada Komentar

Sambutan Kepala Dinas
Telusuri
Agenda
Arsip Berita
Like Us On Facebook
Follow Us On Twitter
Subscribe Us On Youtube
Pengunjung

Hari Ini : 0

Kemarin : 62

Minggu Ini : 129

Bulan Ini : 129

Total Pengunjung : 125914

Polling Website

Apakah Website Ini cukup membantu anda dalam mencari Informasi Ke-PU-an ?


Link Terkait